Metamorfis
Dulu dia seorang gadis kecil yg lucu, setidaknya begitulah orang2 menceritakan ttg dirinya. Kekerasan yang ada pada dirinya terkendali dengan baik. Sifat penurut, pendiam, semua sifat yang disukai oleh orang2 tua terdapat dalam dirinya. Menjadi seorang anak perempuan yg feminin.
Saat tumbuh menjadi remaja, tak ada perubahan berarti dalam dirinya. Dia hanya sudah lebih bisa bergaul dengan beragam orang. Dunia tak hanya di balik tembok rumahnya. Selayaknya anak yg tumbuh remaja, dia mulai mengenal lawan jenisnya, dan perasaan itu. Perhatian dari seorang lelaki membawanya mengenal status itu. Selama itu dia menjadi sosok yg sama, menerima apa yg diberikan, walau terkadang kekerasan dan egonya terkeluarkan juga. Tapi hanya setahun berlalu dan akhirnya kandas, karena kebodohannya juga, begitu naif sehingga mudah dipermainkan. Kepercayaan yg terlalu besar pada seseorang.
Kekandasan itu membawanya pada sisi lain dari dirinya yang selama ini terpendam. Sisi yg tak ingin dibendung lagi. Sisi kefeminiman mulai tertutup oleh sisi maskulin didirinya. Sisi yg ingin diakui hebat, tak ingin dianggap lemah hanya karena dia wanita. Kekuatan dan kekerasan itulah yg menjadi bajunya. Tapi tetap saja ada yg tak berubah. Tetap menjadi pendengar, menjadi orang yg selalu berada dibelakang orang lain. Menjadi yg kedua. Dibalik rasa ingin diakui terbentang rasa ketidakpercayaan diri yang tinggi, merasa tak mampu, sehingga tak berani maju, selalu bersembunyi dibelakang. Parahnya rasa itu semakin besar saja.
Tak bisa terus menerima keadaan itu membawanya selalu ingin melarikan diri. Melakukan perubahan diri. Menjadi orang yg terbuka untuk hampir semua orang. Menampilkan keceriaan, dan kegilaan berusaha dilakukannya untuk mendapatkan pengakuan dia bisa. Dia menikmati sampai suatu saat dia tersadar, banyak hal yg berubah dan itu seperti bukan dirinya. Banyak yg terjadi di luar kontrol dan selalu menyisakan pedih dan sakit dari akhir yang selalu tak baik.
Pandangannya tak lepas pada langit malam itu, pikiran melayang kesemua kejadian belakangan ini. Malam ini puncaknya saat semuanya telah menjadi berantakan. Saatnya tersadar, setidaknya itulah kata hatinya. Ada rasa dalam dirinya, mungkin selama ini dia telah salah memilih perannya dalam kehidupan ini. Tak seharusnya dia merubah diri sejauh itu. Mungkin peran untuk menjadi pendengar dan tempat cerita, yg tak banyak tingkah, tak banyak bicara adalah yang terbaik untuknya. Mungkin sebaiknya dia memang tak usah terlalu banyak menceritakan dirinya pada orang lain. Tak perlu memberi tahu mereka setiap apa yg dirasa dan dimauinya. Karena itulah peran yg terbaik untuknya. Tak usah terlalu berharap pada sesuatu yg lebih, terutama menyangkut orang lain, sahabat, teman, cinta, pekerjaan, apalagi sebuah pengakuan.
Cukuplah menjalani apa yg seharusnya, lebih banyak diam dan mendengarkan, tak usah bicara jika tak diperlukan.
Keputusan itu diambilnya juga. Tak tau benar atau salah, tapi tak apalah untuk mencoba, jika tak dicoba tak akan pernah tahukan? Toh tak ada ruginya, semuanya juga sudah berantakan. Kali ini dia tak ingin membangun hubungan terlalu jauh bahkan dengan teman2 yg dulu pernah dekat dengannya. Rasa takut untuk terlalu tergantung pada mereka dan mencoba mengikuti mereka sangat menghantuinya. Dan rasa yg selalu membuatnya serba salah jika tak dapat memenuhi keinginna mereka. Baiklah dia sekarang menjadi dirinya sendiri, mungkin kembali seperti dulu, walau tak ingin seluruhnya. Yang pasti lebih baik harusnya.
Keputusan sudah diambil, semoga tak ada lagi pengaruh2 luar yg membawanya kembali ke posisi semula.